Translate

Selasa, 08 Juli 2014

Hari Libur di Jepang

Hari Anak-anak (こどもの日Kodomo no hi?) adalah salah satu hari libur resmi di Jepang yang jatuh tanggal 5 Mei. Hari libur ini merupakan serangkaian hari libur di akhir April dan awal Mei yang disebut Golden Week (Minggu Emas) di Jepang. Hari Anak-anak diperingati sejak tahun 1948 dan ditetapkan dengan undang-undang hari libur Jepang (Shukujitsu-hō) untuk "menghormati kepribadian anak, merencanakan kebahagiaan anak sambil berterima kasih kepada ibu." Kue yang dimakan selama perayaan adalah kue chimaki dan kashiwamochi. Keluarga yang memiliki anak laki-laki juga memasang koinobori (bendera berbentuk ikan koi). Pada bendera ikan mas yang paling besar digambarkan anak laki-laki super kuat Kintarō sedang menunggang ikan emas. Dalam buku sejarah Cina Buku Han Akhir (Hou Han Shu) dikisahkan tentang sebuah air terjun di sungai Sungai Kuning yang alirannya deras. Ikan-ikan berusaha keras memanjat air terjun, namun hanya koi yang berhasil memanjat air terjun dan berubah menjadi naga. Oleh karena itu, bendera ikan koi (koinobori) dipasang di rumah keluarga samurai untuk merayakan adanya anak laki-laki.Selama perayaan Hari Anak-anak, di rumah keluarga yang memiliki anak laki-laki terdapat tradisi memajang replikayoroi (baju zirahsamurai) dan kabuto (helm samurai). Tradisi memajang yoroi dan kabuto berasal dari tradisi keluarga samurai. Orang tua mengharapkan anak laki-lakinya tumbuh sehat dan kuat. Peralatan perang seperti yoroi dan kabuto dipajang karena dipercaya dapat melindungi anak laki-laki dari bencana.
Hari Ekuinoks Musim Gugur (秋分の日Shūbun no hi?) adalah hari libur resmi di Jepang yang jatuh sekitar 23 September ketika terjadi ekuinoks musim gugur yang merupakan hari pertama musim gugur di belahan bumi utara.Hari libur ini ditetapkan tahun 1948 dengan undang-undang hari libur Jepang (Shukujitsu-hō) tahun 1948 untuk "memuliakan nenek moyang, mengenang orang yang sudah meninggal," sedangkan penentuan tanggal berdasarkan hari ekuinoks musim gugur menurut waktu Jepang.
Hari Ekuinoks Musim Gugur 2008-2017
2008 23 September
2009 23 September
2010 23 September
2011 23 September
2012 22 September
2013 23 September
2014 23 September
2015 23 September
2016 22 September
2017 23 September
Perubahan hari ekuinoks musim gugur bisa terjadi sebelum dan sesudah tahun kabisat. Rapat kabinet untuk menentukan tanggal ekuinoks musim gugur tahun berjalan sudah diadakan tanggal 1 Februari tahun sebelumnya. Penentuan tanggal ekuinoks musim gugur didasarkan tabel almanak (Rekishō Nempyō) yang merupakan pamflet terbitan Badan Observasi Astronomi Nasional Jepang. Hasil rapat diumumkan dalam lembaran negara yang disebut Kampō. Sesuai perhitungan astronomi, hari ekuinoks musim gugur selalu jatuh tanggal 23 September hingga tahun 2011. Di antara tahun 2012 hingga tahun 2044, hari ekuinoks musim gugur juga selalu jatuh tanggal 23 September sedangkan pada tahun kabisat jatuh tanggal 22 September. Sampai tahun 1947, hari libur ini disebut Shūki kōrei-sai (秋季皇霊祭?, perayaan musim gugur arwah leluhur keluarga kekaisaran). Bagi berbagai aliran agama Buddha di Jepang, hari ekuinoks musim gugur merupakan saat memulai upacara Shūki Higan-e (Higan musim gugur) yang berlangsung seminggu untuk mendoakan arwah leluhur. Kata "Higan" secara harafiah berarti "pantai seberang" untuk membedakannya dengan "pantai sebelah sini" (alam dunia). Periode Higan terjadi dua kali dalam setahun di musim semi dan musim gugur yang merupakan saat membersihkan makam dan mempersembahkan kue ohagi (sebutan di musim gugur untuk kue botamochi) di altar keluarga.

Perhitungan sederhana ekuinoks musim gugur 1900-2099

Tahun yang angkanya habis dibagi 4:
  1900           24 September
  1904 - 2008 23 September
  2012 - 2096 22 September
Tahun yang angkanya dibagi 4 sisa 1:
  1901 - 1917 24 September
  1921 - 2041 23 September
  2045 - 2097 22 September
Tahun yang angkanya dibagi 4 sisa 2:
  1902 - 1946 24 September
  1950 - 2074 23 September
  2078 - 2098 22 September
Tahun yang angkanya dibagi 4 sisa 3:
  1903 - 1979 24 September
  1983 - 2099 23 September
Hari Ekuinoks Musim Semi (春分の日Shunbun no hi?) adalah hari libur resmi di Jepang yang jatuh tanggal 20 Maret atau 21 Maret ketika terjadi ekuinoks vernal (titik musim semi), saat siang dan malam sama panjang. Hari libur ini ditetapkan dengan undang-undang hari libur Jepang (Shukujitsu-hō) tahun 1948 untuk "berterima kasih kepada alam dan mencintai makhluk hidup."  Bagi berbagai aliran agama Buddha di Jepang, hari ekuinoks musim semi merupakan saat memulai upacara Shunki Higan-e (higan musim semi) yang berlangsung seminggu untuk mendoakan arwah leluhur. Kata "higan" secara harafiah berarti "pantai seberang" untuk membedakannya dengan "pantai sebelah sini" (alam dunia). Periode higan terjadi dua kali dalam setahun di musim semi dan musim gugur yang merupakan saat membersihkan makam dan mempersembahkan kue botamochi di altar keluarga. Sampai tahun 1947, hari libur ini disebut Shunki kōrei-sai (春季皇霊祭?, perayaan musim semi arwah leluhur keluarga kekaisaran). Rapat kabinet untuk menentukan tanggal ekuinoks vernal tahun berjalan sudah diadakan pada 1 Februari tahun sebelumnya. Penentuan tanggal ekuinoks vernal didasarkan pada tabel almanak (Rekishō Nempyō) yang merupakan pamflet terbitan Badan Observasi Astronomi Nasional Jepang. Hasil rapat diumumkan dalam lembaran negara yang disebut Kampō.
Menurut perhitungan astronomi yang berlaku sekarang hingga tahun 2025, ekuinoks vernal selalu jatuh tanggal 21 Maret, tapi jatuh tanggal 20 Maret pada tahun kabisat dan tahun sesudah tahun kabisat.

Perhitungan sederhana ekuinoks musim semi 1900-2099

Tahun yang angkanya habis dibagi 4:
  1900 - 1956 21 Maret
  1960 - 2088 20 Maret
  2092 - 2096 19 Maret
Tahun yang angkanya dibagi 4 sisa 1:
  1901 - 1989 21 Maret
  1993 - 2097 20 Maret
Tahun yang angkanya dibagi 4 sisa 2:
  1902 - 2022 21 Maret
  2026 - 2098 20 Maret
Tahun yang angkanya dibagi 4 sisa 3:
  1903 - 1923 22 Maret
  1927 - 2055 21 Maret
  2059 - 2099 20 Maret
Hari Ekuinoks Musim Semi 2008-2017
  • 2008 20 Maret
  • 2009 20 Maret
  • 2010 21 Maret
  • 2011 21 Maret
  • 2012 20 Maret
  • 2013 20 Maret
  • 2014 21 Maret
  • 2015 21 Maret
  • 2016 20 Maret
  • 2017 20 Maret
Hari Hijau (みどりの日Midori no hi?) adalah salah satu hari libur resmi di Jepang yang jatuh tanggal 4 Mei. Hari libur ini merupakan salah satu dari serangkaian hari libur di akhir April dan awal Mei yang disebut Golden Week (Minggu Emas) di Jepang.Hari Hijau menurut undang-undang hari libur Jepang (Shukujitsu-hō) digunakan untuk "mengenal alam, berterima kasih atas kemurahan alam, dan memperkaya hati nurani." Di hari libur ini, pengunjung semua taman nasional dan taman yang dikelola pemerintah daerah dibebaskan dari biaya masuk berdasarkan keputusan Rapat Kabinet tanggal 8 Agustus2006.Sejak 1948 hingga 1988, 29 April merupakan Hari Ulang Tahun Kaisar untuk merayakan ulang tahun Kaisar Shōwa. Setelah Kaisar Shōwa tutup usia, parlemen Jepang pada tanggal 15 Februari1989 menetapkan 29 April sebagai Hari Hijau, sedangkan hari libur untuk merayakan ulang tahun Kaisar berubah menjadi tanggal 23 Desember.Dari tahun 1989 hingga 2006, tanggal 29 April diperingati sebagai Hari Hijau, tapi sejak tahun 2007 ditetapkan sebagai Hari Shōwa berdasarkan revisi undang-undang hari libur yang disahkan Parlemen Jepang pada 13 Mei2005. Sebelum diubah menjadi Hari Hijau, 4 Mei merupakan Hari Libur Rakyat (Kokumin no kyūjitsu) yang ditetapkan pemerintah karena tanggal tersebut terjepit di antara dua hari libur.
Hari Kebudayaan (文化の日Bunka no hi?) adalah hari libur resmi di Jepang yang jatuh tanggal 3 November. Hari libur ini menurut undang-undang hari libur Jepang (Shukujitsu-hō) bertujuan agar rakyat "mencintai kebebasan dan perdamaian, serta memajukan kebudayaan."
Tanggal 3 November 1946 merupakan hari pengumuman konstitusi baru Jepang yang mementingkan perdamaian dan kebudayaan, sehingga undang-undang hari libur Jepang (Shukujitsu-hō) tahun 1948 menetapkan 3 November sebagai Hari Kebudayaan. Tanggal 3 Mei1947 yang merupakan hari pertama pelaksanaan konstitusi Jepang dijadikan hari libur yang disebut Hari Peringatan Konstitusi
Upacara penganugerahan Medali Kebudayaan dilangsungkan di istana kaisar (Kōkyo) pada Hari Kebudayaan. Selain itu, Kantor Kebudayaan mengadakan festival kesenian yang dimeriahkan dengan pemberian hadiah untuk berbagai bidang kesenian. Pengunjung sebagian museum pada hari ini juga dibebaskan dari biaya masuk.
Hari Kedewasaan (成人の日Seijin no hi?) adalah hari libur resmi di Jepang yang jatuh hari Senin minggu kedua di bulan Januari. Menurut undang-undang hari libur Jepang (Shukujitsu-hō), hari libur ini dimaksudkan untuk "merayakan generasi muda yang bisa hidup mandiri, dan menyadari telah menjadi dewasa." Upacara Seijin shiki diadakan pemerintah lokal di kota-kota dan desa-desa untuk meresmikan penduduk yang telah atau segera genap berusia 20 tahun, usia orang telah dianggap dewasa menurut hukum untuk boleh merokok, mengonsumsi minuman beralkohol, dan mengikuti pemilihan umum.
Upacara kedewasaan setidaknya sudah dilakukan di Jepang untuk pangeran muda sejak 714 Masehi. Upara ini ditandai dengan pemakaian jubah baru dan pergantian model rambut untuk menandai dimulainya usia kedewasaan.[1] Sejak ditetapkannya Hari Kedewasaan di Jepang, dari tahun 1948 hingga tahun 1999, perayaan ini selalu diadakan tanggal 15 Januari bertepatan dengan hari tahun baru kecil untuk meneruskan tradisi genbuku yang selalu diadakan pada hari yang sama. Pada tahun 2000, Hari Kedewasaan dipindah ke hari Senin minggu kedua di bulan Januari sesuai Sistem Happy Monday yang memindahkan sebagian hari libur ke hari Senin agar libur akhir pekan bertambah panjang.
Peserta upacara Seijin shiki adalah penduduk yang sehari setelah Hari Kedewasaan tahun lalu hingga hari upacara berlangsung telah genap berusia 20 tahun. Penduduk yang diundang untuk mengikuti upacara tahun 1960 misalnya, terdiri dari penduduk yang berulang tahun ke-20 antara tanggal 16 Januari1959 hingga 15 Januari1960. Sebagian pemerintah lokal juga mengundang penduduk yang berulang tahun ke-20 antara tanggal 2 April tahun yang lalu hingga 1 April tahun berjalan. Upacara Kedewasaan (成人式Seijin-shiki?) biasanya diadakan pada pagi hari di balai kota setempat. Semua orang dewasa muda yang telah berumur atau akan berumur 20 tahun antara tanggal 2 April tahun sebelumnya dan 1 April tahun itu, serta berstatus penduduk (memiliki jūminhyō) diundang untuk menghadiri upacara. Pejabat kota memulai upacara dengan pidato dan hadiah kecil diberikan kepada penduduk dewasa yang baru. Wanita menghadiri upacara dengan mengenakan kimono berlengan lebar yang disebut furisode dan alas kaki yang disebut zōri.[1] Kesukaran dalam mengenakan kimono sendirian tanpa dibantu orang lain menyebabkan para wanita muda memilih untuk mengunjungi salon kecantikan untuk dipakaikan kimono dan dirias. Satu set kimono formal berharga mahal, oleh karena itu sebagian wanita meminjam kimono dari saudara, toko peminjaman baju, atau secara khusus minta kepada orang tua untuk membelikannya. Pria mengenakan kimono formal berwarna gelap dan hakama. Meskipun demikian, pria sering juga mengenakan pakaian formal ala Barat berupa jas lengkap dengan dasinya.[2] Setelah upacara, mereka merayakannya dengan berpesta, terutama minum minuman beralkohol.
Hari Laut (海の日Umi no hi?) adalah salah satu hari libur resmi di Jepang yang jatuh pada hari Senin minggu ke-3 bulan Juli. Tanggal 20 Juli dulunya merupakan Hari Laut sebelum diubah dengan Sistem Happy Monday yang memindahkan sebagian hari libur ke hari Senin.Kaisar Meiji tiba kembali di Pelabuhan Yokohama pada tanggal 20 Juli1876 setelah melakukan perjalanan kerja ke daerah Tohoku dengan menaiki kapal bertenaga uap "Meiji Maru" yang biasa digunakan untuk inspeksi mercu suar dan bukan kapal angkatan laut. Peristiwa ini diperingati setiap tanggal 20 Juli sebagai Hari Peringatan Kelautan (Umi no kinen-bi) berdasarkan usul Menteri Pos dan Telegram Murata Shōzō di bulan Juni1941.Hari Peringatan Kelautan diganti namanya menjadi Hari Laut, dan ditetapkan sebagai hari libur sejak tahun 1996 berdasarkan undang-undang hari libur Jepang (Shukujitsu-hō) yang direvisi sebagai hari untuk "berterima kasih atas kemurahan laut dan mengharapkan kemakmuran Jepang sebagai negara maritim."
Golden Week (ゴールデンウィーク?) atau Minggu Emas adalah periode di akhir bulan April hingga minggu pertama bulan Mei di Jepang yang memiliki serangkaian hari libur resmi. Periode Golden Week bergantung pada tahunnya, tapi dimulai sekitar 29 April dan berakhir sekitar 5 Mei. Liburan dapat menjadi agak panjang bila ditambah dengan hari terjepit dan akhir pekan.Golden Week disingkat sebagai GW, dan sering disebut Ōgata renkyū (大型連休?, liburan berturutan skala besar) atau Ōgon shūkan (黄金週間?, minggu emas). Sejak tahun 2007, sepanjang periode Minggu Emas terdapat 4 hari libur: Selain itu, perusahaan dan industri sering meliburkan diri pada tanggal 1 Mei untuk memperingati Hari Buruh (Rōdōsai), walaupun bukan merupakan hari libur resmi di Jepang.Liburan Golden Week tahun 2008 menjadi lebih panjang sehari sesuai dengan kebijakan tahun 2005 yang memindahkan hari libur yang jatuh di hari Minggu ke hari Senin. Pada tahun 2008, Hari Hijau jatuh pada hari Minggu 4 Mei, sehingga dipindahkan ke hari Selasa 6 Mei agar tidak jatuh di hari Senin tanggal 5 Mei yang merupakan Hari Anak-anak.Golden week merupakan salah satu masa tersibuk bagi jasa transportasi dan pariwisata, bersama-sama dengan liburan musim panas, liburan Obon, dan Tahun Baru. Masa liburan digunakan untuk pulang ke daerah asal atau berwisata ke dalam dan luar negeri. Harga tiket pesawat terbang, paket wisata, dan tarif hotel menjadi lebih tinggi dari biasa. Kereta api dan shinkansen dipenuhi dengan penumpang hingga sebagian harus berdiri, dan jalan bebas hambatan menjadi macet.Cuaca yang sejuk di sekitar Golden Week dimanfaatkan untuk penyelenggaraan matsuri di berbagai daerah di Jepang:
Istilah Golden Week merupakan salah satu contoh kosakata bahasa Jepang yang ditulis dan dibaca seperti bahasa Inggris tapi merupakan istilah bahasa Jepang (wasei-eigo). Setelah pemerintah Jepang menetapkan undang-undang hari libur pada tahun 1948, gedung-gedung bioskop kebanjiran penonton yang menghabiskan hari libur di akhir bulan April dan minggu pertama bulan Mei dengan menonton film. Pada waktu itu siaran televisi belum ada dan rakyat senang menghabiskan liburan dengan pergi menonton bioskop, berbelanja di toko serba ada, atau bepergian ke tempat wisata yang dekat-dekat.Matsuyama Hideo dari perusahaan film Daiei Motion Picture menyebut minggu liburan ini sebagai "minggu paling luar biasa" bagi industri film di Jepang dan menamakannya "Golden Week". Istilah ini secara luas dipakai di kalangan pemilik gedung bioskop sebelum akhirnya dikenal masyarakat luas. Penjelasan lain mengatakan istilah Golden Week dipinjam dari kalangan stasiun radio di Jepang yang menyebut jam siar dengan pendengar terbanyak dengan istilah "Golden Time".NHK dan beberapa surat kabar tidak lagi menggunakan istilah Golden Week, melainkan Ōgata renkyū (liburan berturutan skala besar). Media massa mengemukakan berbagai macam alasan untuk tidak menggunakan istilah Golden Week. Di antaranya, media massa enggan meminjam istilah dari dunia film, penulisan dengan katakana yang memakan tempat, hingga pertimbangan adanya pemirsa dan pembaca surat kabar yang tidak semua dapat berlibur panjang.
Hari Shōwa (昭和の日Shōwa no hi?) adalah salah satu hari libur resmi di Jepang yang jatuh tanggal 29 April dan bertepatan dengan hari ulang tahun Kaisar Shōwa. Hari libur ini ditetapkan pada tahun 2005 untuk menggantikan tanggal 29 April yang hingga tahun 2006 disebut Hari Hijau (Midori no hi), sedangkan Hari Hijau dipindahkan ke tanggal 4 Mei yang dulunya merupakan Hari Libur Nasional (Kokumin no kyūjitsu).Hari Shōwa menurut hasil revisi undang-undang hari libur Jepang (Shukujitsu-hō) digunakan untuk "memikirkan masa depan negara dengan mengenang lewatnya hari-hari penuh pergolakan, dan tercapainya pembangunan kembali di zaman Shōwa." Hari libur ini mengundang kontroversi dan merupakan salah satu dari serangkaian hari libur di akhir bulan April dan awal Mei yang disebut Golden Week (Minggu Emas). Setelah Kaisar Shōwa tutup usia pada tanggal 7 Januari1989 perlu diadakan revisi pada undang-undang hari libur Jepang yang menetapkan 29 April sebagai Hari Ulang Tahun Kaisar. Usaha berbagai organisasi mulai terlihat untuk menjadikan 29 April sebagai "Hari Peringatan Shōwa" (昭和記念日Shōwa kinen-bi?), tapi gagal akibat ditentang masyarakat Jepang. Sebagai gantinya, tanggal 29 April ditetapkan sebagai Hari Hijau yang secara tidak langsung mengingatkan pada Kaisar Shōwa yang suka menanam pepohonan.Berbagai organisasi yang menggalang kekuatan untuk mewujudkan Hari Shōwa akhirnya mendapat dukungan faksi dalam Parlemen Jepang. Setelah diajukan ketiga kalinya dalam masa sidang ke-159 tahun 2004, rancangan undang-undang Hari Shōwa disahkan dalam masa sidang Parlemen Jepang ke-162 tahun 2005 dan mulai berlaku tahun 2007.Menurut undang-undang hari libur hasil revisi, tanggal 29 April ditetapkan sebagai Hari Shōwa, sedangkan Hari Hijau dipindahkan ke tanggal 4 Mei untuk menggantikan Hari Libur Nasional (Kokumin no kyūjitsu). Selain itu, undang-undang juga berisi pasal pemindahan hari libur yang jatuh di hari Minggu ke hari Senin yang disebut "Hari Libur Pemindahan" (Furikae kyūjitsu). Bila hari Senin sudah merupakan hari libur resmi, maka hari libur dipindahkan ke hari Selasa agar tidak ada dua hari libur yang bertumpuk.
Hari Peringatan Konstitusi (憲法記念日Kenpō kinen-bi?) adalah salah satu hari libur resmi di Jepang yang jatuh tanggal 3 Mei untuk memperingati hari pelaksanaan konstitusi Jepang. Hari libur ini merupakan salah satu dari serangkaian hari libur di akhir April dan awal Mei yang disebut Golden Week (Minggu Emas) di Jepang.Konstitusi baru Jepang diumumkan tanggal 3 November1946 dan mulai berlaku tanggal 3 Mei 1947. Hari pengumuman konstitusi sekarang diperingati setiap tanggal 3 November sebagai Hari Kebudayaan.Hari Peringatan Konstitusi ditetapkan tahun 1948 dengan menurut undang-undang hari libur Jepang (Shukujitsu-hō) dengan maksud untuk "memperingati pelaksanaan konstitusi Jepang, dan berharap atas kemajuan negara." Anak-anak Jepang yang dilahirkan tahun 1948 sering diberi nama yang mengandung aksara kanji yang digunakan untuk menulis kata hukum, atau undang-undang (Ken?), seperti Kenji, Kentarō, dan Noriko.
Hari Olahraga dan Kesehatan (体育の日Taiiku no hi?) adalah hari libur resmi di Jepang. Menurut undang-undang hari libur Jepang (Shukujitsu-hō), hari ini digunakan untuk "menumbuhkan rasa cinta pada olahraga, membentuk jiwa dan raga yang sehat". Pada mulanya, hari libur ini ditetapkan tanggal 10 Oktober untuk memperingati hari upacara pembukaan Olimpiade Tokyo 1964, tapi diubah menjadi hari Senin minggu kedua di bulan Oktober sejak diberlakukan Sistem Happy Monday yang memindahkan sebagian hari libur ke hari Senin agar libur akhir pekan bertambah panjang. Di Hari Olahraga dan Kesehatan, pemakai berbagai sarana olahraga bisa menggunakan fasilitas secara gratis atau mendapat potongan harga. Di lingkungan sekolah terdapat tradisi mengadakan pertandingan (Undō-kai) antarsiswa yang dibagi menjadi dua kubu (merah dan putih) atau empat kubu (utara, selatan, barat, timur). Pertandingan yang dilakukan bisa beraneka macam, mulai dari lari, lari estafet, lari menghindari rintangan, hingga perlombaan tarik tambang, memasukkan bola dari kain ke dalam keranjang, atau mendorong-dorong bola yang berukuran sangat besar. Di kantor-kantor atau lingkungan tempat tinggal sering diadakan perlombaan yang bisa membuat orang tertawa, seperti: lari untuk memakan roti yang digantung di atas tali, atau perlombaan mengambil permen yang ditutupi lapisan tepung terigu dengan mulut. Olimpiade Tokyo 1964 adalah olimpiade musim panas yang diadakan lebih lambat dari kebiasaan. Bulan Oktober sudah termasuk musim gugur di Jepang, dan tanggal 10 Oktober sengaja dipilih sebagai hari pembukaan olimpiade karena pada hari itu kemungkinan besar (singularitas) cuaca cerah di wilayah Tokyo dan sekitarnya. Hari pembukaan Olimpiade Tokyo 1964 mulai diperingati sebagai Hari Olahraga dan Kesehatan pada tanggal 10 Oktober 1966. Selama 34 tahun dari tahun 1966 hingga tahun 1999, hujan dengan curah hujan melebihi 1 ml hanya pernah turun sebanyak 5 kali di daerah Tokyo pada tanggal 10 Oktober. Setelah dipindahkan ke hari Senin minggu kedua di bulan Oktober, Hari Olahraga dan Kesehatan tidak lagi selalu cerah dan perlombaan menjadi sering ditunda akibat hujan.
Hari Pekerja (勤労感謝の日Kinrō kansha no hi?) adalah hari libur resmi di Jepang yang jatuh tanggal 23 November. Hari libur ini ditetapkan tahun 1948 dengan undang-undang hari libur Jepang (Shukujitsu-hō) untuk "menghormati buruh, merayakan produksi, dan saling mengungkapkan rasa terima kasih."Sebelum Perang Dunia II, tanggal 23 November merupakan hari festival panen beras Niiname-sai atau Niiname no matsuri (新嘗祭?, Festival Panen Shinto), hanya namanya saja yang diganti menjadi "hari bersyukur kepada buruh" (Kinrō kansha no hi). Nama baru untuk Niiname-sai disesuaikan dengan nama untuk Pesta Hari Bersyukur (Thanksgiving) di Amerika Serikat, sehingga dinamakan Labor Thanksgiving Day (hari bersyukur kepada buruh) yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang menjadi Kinrō kansha no hi.Sampai tahun 1872, Niiname-sai dirayakan pada hari kelinci ke-2 bulan ke-11 menurut kalender lunar. Setelah kalender Gregorian digunakan di Jepang pada tahun 1873, Niiname-sai menurut kalender Gregorian ternyata jatuh pada bulan Januari tahun berikutnya. Perayaan festival panen pada bulan Januari bisa dianggap keanehan, sehingga Niiname-sai tetap dirayakan pada hari kelinci ke-2 di bulan November. Pada tahun 1873, hari kelinci ke-2 pada bulan November bertepatan dengan tanggal 23 November sehingga pada tahun berikutnya (1874) ditetapkan untuk melangsungkan Niiname-sai setiap 23 November.
Hari Pembentukan Negara (建国記念の日Kenkoku kinen no hi?, Hari untuk memperingati pendirian negara) adalah hari libur resmi di Jepang yang jatuh tanggal 11 Februari. Hari libur ini memperingati peristiwa Kaisar Jimmu naik tahta berdasarkan catatan Nihon Shoki dan Kojiki yang menurut perhitungan kalender solar terjadi 11 Februari660 SM.[1]Hari Pembentukan Negara ditetapkan dengan revisi undang-undang hari libur Jepang (Shukujitsu-hō) tahun 1966 dan mulai berlaku sebagai hari libur resmi pada 11 Februari1967. Berbeda dengan hari libur resmi lain yang tanggalnya ditetapkan dengan undang-undang hari libur, tanggal Hari Pembentukan Negara ditetapkan kemudian dengan Instruksi Kabinet No. 376 tahun 1966. Hari libur ini dulunya dirayakan sebagai Kigensetsu hingga menjelang Perang Dunia II. Sekitar tahun 1951 mulai ada usaha menghidupkan kembali Kigensetsu, tapi rancangan undang-undang yang diajukan sebanyak 9 kali sejak tahun 1957 gagal disahkan Parlemen Jepang. Di bulan Juni 1966, Hari Pembentukan Negara akhirnya berhasil disahkan sebagai hari libur dengan syarat tanggalnya akan ditetapkan kemudian dengan Instruksi Kabinet. Penentuan tanggal dilakukan Kantor Perdana Menteri Jepang dengan bantuan kalangan ilmuwan. Dari 10 orang yang hadir dalam rapat, 7 orang sepakat dengan tanggal 11 Februari sebagai Hari Pembentukan Negara. Hasil kesepakatan diajukan pada tanggal 8 Desember1966 dan keesokan harinya 9 Desember1966 dijadikan Instruksi Kabinet.
Hari Penghormatan Orang Usia Lanjut (敬老の日Keirō no hi?) adalah salah satu hari libur resmi di Jepang. Hari libur ini dulunya diperingati tanggal 15 September, tapi sejak tahun 2003 dipindahkan ke hari Senin di minggu ke-3 bulan September mengikuti sistem Sistem Happy Monday.Hari libur ini menurut undang-undang hari libur Jepang (Shukujitsu-hō) digunakan untuk "mencintai orang lanjut usia atas sumbangsih selama bertahun-tahun terhadap masyarakat, dan merayakan umur panjang."Hari Penghormatan Orang Usia Lanjut berasal dari ide seorang kepala desa bernama Kadowaki Masao dari Distrik Taka, Prefektur Hyogo (sekarang kota Taka) yang mengusulkan "Hari Orang Tua" (Toshiyori no hi). Di desa yang dipimpinnya tanggal 15 September sebagai hari untuk menghormati orang lanjut usia pada 15 September dan kebetulan di pertengahan bulan September merupakan masa sepi dari pekerjaan bertani. Sejak tahun 1950, acara ini meluas ke seluruh Prefektur Hyogo dan selanjutnya dijadikan hari peringatan secara nasional.Pada tahun 1964, Hari Orang Tua (Toshiyori no hi) diganti namanya menjadi Hari Orang Lanjut Usia (Rōjin no hi) karena istilah "toshiyori" (orang tua) dirasa kurang sopan. Pada tahun 1966, Hari Orang Lanjut Usia dijadikan hari libur setelah berubah nama menjadi Hari Penghormatan Orang Lanjut Usia (Keirō no hi).Jumlah orang Jepang yang berusia 100 tahun atau lebih tercatat sebanyak 25.554 orang (termasuk orang Jepang yang bermukim di luar negeri dan orang asing yang tinggal di Jepang). Data dikeluarkan Kementerian Kesehatan Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Jepang tanggal 13 September2005 dan direvisi tanggal 16 September2005.Jumlah orang Jepang yang berusia 100 tahun bertambah sebanyak 2.516 orang dibandingkan tahun 2004. Dari 25.554 orang yang berusia di atas 100 tahun, 21.775 adalah perempuan (bertambah 2.260 orang), sedangkan laki-laki sebanyak 3,779 orang (kenaikan sebanyak 256 orang). Berdasarkan perhitungan statistik, dari total 100.000 penduduk Jepang terdapat 20,05 orang yang berusia di atas 100 tahun.
Sistem Happy Monday (ハッピーマンデー制度Happī mandē seido?) adalah keputusan pemerintah Jepang untuk memindahkan sejumlah hari libur nasional ke hari Senin sehingga libur akhir pekan bertambah panjang. Hari libur tidak dipindahkan ke hari Senin yang terdekat, melainkan ke hari Senin minggu tertentu mengikuti sistem yang digunakan di Amerika Serikat.Hari Kedewasaan dan Hari Olahraga dan Kesehatan dipindahkan ke hari Senin berdasarkan undang-undang hari libur Jepang No. 141 tahun 1998, sedangkan Hari Laut dan Hari Penghormatan Orang Lanjut Usia dipindahkan ke hari Senin berdasarkan UU No. 59 tahun 2001.

Hari libur yang dipindahkan
Tahun baru (正月shōgatsu?) di Jepang dirayakan tanggal 1 Januari dan berlangsung hingga tanggal 3 Januari. Dalam bahasa Jepang, kata "shōgatsu" dulunya dipakai untuk nama bulan pertama dalam setahun, tapi sekarang hanya digunakan untuk menyebut tiga hari pertama pada awal tahun. Istilah "shōgatsu" juga digunakan untuk periode matsu no uchi (松の内?) atau masa hiasan daun pinus (matsu) boleh dipajang. Di daerah Kanto, Matsu no uchi berlangsung dari tanggal 1 Januari hingga 7 Januari, sedangkan di daerah Kansai berlangsung hingga koshōgatsu (小正月?, tahun baru kecil) tanggal 15 Januari. Tanggal 1 Januari adalah hari libur resmi di Jepang, tapi kantor pemerintah dan perusahaan swasta tutup sejak tanggal 29 Desember hingga 3 Januari. Bank dan lembaga perbankan tutup dari tanggal 31 Desember hingga 3 Januari, kecuali sebagian ATM yang masih melayani transaksi. Sampai tahun 1970-an, sebagian besar toko dan pedagang eceran di daerah Kanto tutup hingga tanggal 5 Januari atau 7 Januari. Perubahan gaya hidup dan persaingan dari toko yang buka 24 jam membuat kebiasaan libur berlama-lama ditinggalkan. Mulai tahun 1990-an, hampir semua mal dan pertokoan hanya tutup tanggal 1 Januari dan mulai buka keesokan harinya tanggal 2 Januari, tapi biasanya dengan jam buka yang diperpendek. Hari pertama penjualan barang (hatsu-uri) di pusat pertokoan dimeriahkan dengan penjualan fukubukuro (kantong keberuntungan). Penjualan barang di semua mal dan pertokoan sudah normal kembali sekitar tanggal 4 Januari.Tanggal 1 Januari disebut ganjitsu (元日?, hari pertama), sedangkan pagi hari 1 Januari disebut gantan (元旦?, pagi pertama). Perayaan tahun baru berlangsung selama tiga hari yang disebut sanganichi (三が日?, 3 hari). Bagi sebagian orang, tahun baru belum berakhir sampai tanggal 20 Januari yang disebut hatsuka shōgatsu (二十日正月?, tahun baru tanggal 20), saat semua hiasan tahun baru sudah harus disimpan. Di daerah Kansai, Hatsuka shōgatsu dikenal sebagai honeshōgatsu (骨正月?, tahun baru tulang) karena biasanya pada hari tersebut, ikan masakan tahun baru sudah habis dimakan sampai ke tulang-tulangnya.Kegiatan menyambut tahun baru sudah dimulai sejak dua atau tiga minggu sebelum pergantian tahun. Di daerah Kanto, hari persiapan tahun baru yang disebut o-koto hajime (お事始め?, awal kegiatan) jatuh pada 8 Desember, sedangkan di daerah Kansai pada 13 Desember.Di zaman dulu, kalender Jepang didasarkan pada kalender Tionghoa, sehingga orang Jepang merayakan tahun baru pada awal musim semi, bersamaan dengan Tahun baru Imlek, Tahun baru Korea, dan Tahun baru Vietnam. Pada tahun 1873, pemerintah Jepang mulai menggunakan kalender Gregorian sehingga tahun baru ikut dirayakan tanggal 1 Januari.Di Jepang, penghormatan terhadap arwah leluhur dilakukan sebanyak dua kali, di musim panas sewaktu merayakan obon dan pada awal tahun baru. Sewaktu merayakan tahun baru, arwah leluhur dipercaya datang sebagai Toshigami (年神?, dewa tahun) yang memberi berkah dan kelimpahan sepanjang tahun.Tahun baru pernah digunakan untuk merayakan bertambahnya usia. Tradisi ini dilakukan semasa orang Jepang masih mengikuti cara perhitungan usia yang disebut kazoedoshi. Bayi dianggap sudah berumur 1 tahun sewaktu dilahirkan dan usia bertambah setahun pada tanggal 1 Januari. Pada tahun 1902, perhitungan cara kazoedoshi digantikan sistem umur bertambah sewaktu berulang tahun (man-nenrei) yang lazim digunakan di seluruh dunia. Hari tanggal 31 Desember atau malam tahun baru disebut ōmisoka. Di malam tahun baru, orang Jepang mempunyai tradisi memakan soba yang disebut toshikoshi soba. Stasiun televisi di Jepang bersaing memperebutkan pemirsa dengan berbagai acara malam tahun baru. NHK mempunyai tradisi menayangkan acara Kōhaku Uta Gassen, berupa kompetisi lagu antarpenyanyi terkenal yang dibagi menjadi kubu merah dan kubu putih. Menjelang pukul 12 malam, genta yang terdapat di berbagai kuil agama Buddha di Jepang dibunyikan. Tradisi memukul genta menjelang pergantian tahun disebut joya no kane. Genta dibunyikan sebanyak 108 kali sebagai perlambang 108 jenis nafsu jahat manusia yang harus dihalau. Hari-hari pada awal tahun baru ditandai dengan hatsumōde berupa kunjungan pertama ke kuil agama Shinto dan Buddha. Di depan kuil-kuil besar, selepas pergantian tahun sudah bisa dijumpai kerumunan orang yang menunggu pintu kuil dibuka. Doa yang disampaikan biasanya berupa harapan agar sehat dan selamat sepanjang tahun. Osechi adalah sebutan untuk masakan istimewa yang dimakan pada tahun baru. Sup zōni dari kuah dashi yang berisi mochi dan sayuran merupakan salah satu masakan osechi. Berbagai macam lauk masakan osechi dimasak berhari-hari sebelumnya dan diatur di dalam kotak kayu bersusun yang disebut jūbako (重箱?). Toko swalayan besar sejak beberapa minggu sebelum tahun baru juga sudah membuka pemesanan osechi. Lauk pada masakan osechi biasanya sangat manis atau asin, seperti: kuromame, tatsukuri (gomame), kombumaki, kamaboko, kurikinton, kazunoko, dan datemaki. Makanan tahun baru diharapkan bisa tahan lama, karena tahun baru merupakan kesempatan libur memasak bagi ibu rumah tangga di Jepang. Ikan yang dimasak berbeda menurut daerahnya, di Jepang bagian timur digunakan ikan salem sedangkan di Jepang bagian barat digunakan ikan sunglir (buri). Beberapa daerah juga memiliki masakan khas yang tidak bisa dinikmati di tempat lain. Daerah Kansai memiliki masakan khas berupa ikan cod kering (bōdara) yang dimasak dengan gula pasir dan shōyu. Penutupan perayaan tahun baru ditandai dengan memakan bubur nanakusa yang dimasak dengan 7 jenis sayuran dan rumput. Bubur ini dimakan tanggal 7 atau 15 Januari agar perut bisa beristirahat setelah dipenuhi makanan tahun baru. Acara menumbuk mochi (mochitsuki) merupakan salah satu tradisi menjelang tahun baru. Ketan yang sudah ditanak dimasukkan ke dalam lesung dan ditumbuk dengan alu. Satu orang bertugas menumbuk, sedangkan seorang lagi bertugas membolak-balik beras ketan dengan tangan yang sudah dibasahi air. Beras ketan ditumbuk hingga lengket dan membentuk gumpalan besar mochi berwarna putih.Selain dimakan sebagai pengganti nasi selama tahun baru, mochi juga dibuat hiasan tahun baru yang disebut kagami mochi. Secara tradisional, kagami mochi dibuat dengan cara menyusun dua buah mochi berukuran bundar, ditambah sebuah jeruk di atasnya sebagai hiasan. Orang Jepang mempunyai tradisi memberikan angpao yang dikenal dengan sebutan otoshidama (お年玉?). Sewaktu memberikan otoshidama untuk anak-anak, sejumlah uang kertas yang masih baru atau uang logam dimasukkan ke amplop kecil bernama pochibukuro (otoshidama-bukuro) yang berhiaskan aneka gambar kesukaan anak-anak. Otoshidama sangat ditunggu-tunggu anak-anak di Jepang, terutama bila memiliki paman atau bibi yang murah hati. Perayaan tahun baru juga dimeriahkan dengan menulis aksara kanji pertama untuk tahun tersebut. Tradisi menulis aksara kanji yang dilakukan tanggal 2 Januari disebut kakizome (kaligrafi pertama). Tahun baru juga dirayakan dengan berbagai permainan, seperti: permainan fukuwarai (meletakkan gambar bagian-bagian wajah, seperti hidung, alis mata, dan mulut pada tempat yang tepat dengan mata tertutup), hanetsuki (bulu tangkis tradisional), menaikkan layang-layang (takoage), gasing (koma), bermain dadu (sugoroku), dan permainan memungut kartu yang disebut karuta. Orang Jepang mempunyai tradisi berkiriman kartu pos nengajō (年賀状?, ucapan tahun baru) yang tiba persis tanggal 1 Januari. Kartu pos ucapan tahun baru dijamin sampai ke alamat yang dituju pada tanggal 1 Januari, asalkan dikirim tidak melewati jangka waktu penerimaan yang ditetapkan kantor pos. Penerimaan kartu pos biasanya dimulai pertengahan Desember hingga beberapa hari terakhir sebelum penutupan tahun. Kantor pos membutuhkan pegawai ekstra yang direkrut dari kalangan pelajar, agar semua kartu pos bisa disampaikan tanggal 1 Januari.Sebagai penghormatan terhadap orang yang meninggal, anggota keluarga yang baru ditinggalkan tidak merayakan tahun baru dan tidak mengirim kartu pos tahun baru. Sebagai gantinya, anggota keluarga yang baru ditimpa musibah mengirim kartu pos berisi pemberitahuan tidak bisa mengirim kartu pos ucapan tahun baru.Setiap tahunnya, Kantor Pos Jepang memiliki tradisi mencetak kartu pos dengan tema yang berbeda-beda. Kartu pos dihiasi dengan lukisan tempat terkenal di Jepang dan gambar binatang Shio untuk tahun yang baru. Kartu pos tahun baru yang diterbitkan kantor pos juga memiliki nomor undian yang diundi pada awal tahun. Penerima kartu pos yang beruntung bisa memenangkan berbagai hadiah berupa barang. Selain di kantor pos, kartu pos ucapan tahun baru juga bisa dibeli di berbagai tempat. Kartu pos yang dijual di toko buku memiliki pilihan gambar yang lebih banyak, tapi sering masih perlu ditempeli prangko.Kartu pos ucapan tahun baru bisa ditulisi sendiri dengan berbagai pesan dan ucapan. Gambar binatang atau kalimat ucapan standar bisa ditambahkan dengan menggunakan stempel karet beraneka warna yang dijual di toko buku atau stempel yang disediakan di kantor pos. Kartu pos ucapan tahun baru sering digunakan untuk memamerkan kemampuan menulis indah bagi pengirim yang pandai menulis kaligrafi. Pemilik komputer pribadi bisa menggunakan perangkat lunak khusus untuk mencetak kartu pos. Bagi orang yang memiliki banyak kenalan dan relasi, kartu pos biasanya sudah ditulisi sejak awal bulan Desember.Berbagai ucapan selamat tahun baru yang umum:
  • Kotoshi mo yoroshiku onegai shimasu (今年もよろしくお願いします?)
  • Akemashite omedetō gozaimasu (あけましておめでとうございます?, Selamat tahun baru)
  • Kin-ga shinnen (謹賀新年?, Mengucapkan tahun baru
Hari Ulang Tahun Kaisar (天皇誕生日Tennō tanjōbi?) adalah salah satu hari libur resmi di Jepang untuk merayakan hari ulang tahunKaisar Jepang yang sedang bertahta. Kaisar Jepang yang sekarang berulang tahun tanggal 23 Desember. Masyarakat umum diberi kesempatan untuk melihat keluarga kekaisaran dari halaman istana kaisar (Kokyo). Hingga berakhirnya Perang Dunia II, perayaan ulang tahun kaisar disebut Tenchōsetsu. Hari ulang tahun kaisar dirayakan secara nasional untuk pertama kali pada tahun pertama zaman Meiji (hari 22 bulan 9 tahun 1868 kalender lunisolar) sebagai Tenchōsetsu. Setelah Jepang mulai menggunakan kalender Gregorian pada tahun 1873, Tenchōsetsu dirayakan tanggal 3 November. Hari perayaan Tenchōsetsu selanjutnya ditetapkan dengan mengikuti hari ulang tahun kaisar yang sedang bertahta. Setelah Perang Dunia II, hari Tenchōsetsu diubah namanya sebagai Tennō tanjōbi (Hari Ulang Tahun Kaisar) dan dijadikan hari libur nasional hingga sekarang. Hari Ulang Tahun Permaisuri Kaisar disebut Chikyūsetsu (地久節?) dan tidak pernah dijadikan hari libur nasional.Kaisar Taishō berulang tahun tanggal 31 Agustus dan selalu dirayakan sebagai Tenchōsetsu hingga tahun 1913, tapi tanggal 31 Agustus selalu merupakan saat terpanas dalam setahun di Jepang dan menyulitkan berbagai kegiatan perayaan. Pada tahun 1914, perayaan ulang tahun kaisar ditunda selama dua bulan, dan perayaan hari Tenchōsetsu diubah menjadi tanggal 31 Oktober.



Daftar Hari Ulang Tahun Kaisar
Zaman
Nama Kaisar
Tahun
Tanggal
Hari 22 bulan 9 kalender lunisolar
1989 -